Gereja Lokal Ruteng Telah Lahir Gembala yang Baru

Gereja lokal Keuskupan Ruteng sangat bergembira hari ini. Sebuah ‘pesta iman’ digelar secara meriah di Gereja Katedral Ruteng, simbol keagungan gereja di wilayah keuskupan ini. Seorang ‘gembala umat’ yang bersahaja, Rm. Siprianus Hormat, Pr ditahbiskan menjadi ‘uskup’ baru di sini. Dengan demikian, kerinduan dan doa-doa umat selama ini, akhirnya terjawab tuntas hari ini. Secara resmi, kita memiliki ‘abdi Allah’ yang hadir dalam sosok ‘yang mulia’ Mgr. Siprianus Hormat, Pr.

Pertama nian, kita tentu melambungkan ‘kidung syukur’ kepada Tuhan atas rahmat istimewa yang dialami oleh Gereja Keuskupan Ruteng. Tuhan tidak membiarkan ‘kawanan domba-Nya’, tak terurus oleh seorang gembala yang setia.

Kedua, tentu saja kita perlu mengucapkan selamat dan profisiat kepada Mgr. Siprianus Hormat, Pr yang telah ‘bersedia’ menerima penugasan dari Tuhan untuk menjadi ‘gembala iman’ di keuskupan ini. Mgr. Sipri telah ‘membuka hati’, membiarkan kehendak Tuhan berkarya atas dirinya. Tanggapan Mgr. Sipri atas ‘panggilan dan perintah Tuhan’, patut diapresiasi.

Ketiga, seremoni pentahbisan ini berlangsung di tengah kecemasan dan ketakutan akan wabah Covid-19 yang sudah menjadi pandemik global. Kita menghargai ‘himbauan dan anjuran’ dari pihak tertentu untuk menunda ‘upacara meriah’ itu. Namun, berkat ‘kegigihan’ panitia dan campur tangan kasih Tuhan, akhirnya ‘pesta rohani’ itu terselenggara dengan lancar dan aman. Jadi, kita yakin bahwa keberhasilan itu bukan hanya buah dari prestasi kerja manusia semata, tetapi yang paling penting adalah hasil dari penyelenggaraan cinta Tuhan sendiri.

Keempat, mungkin secara fisik, kita tidak sempat mengikuti perayaan Ekaristi Pentahbisan itu, namun sebagai ‘bagian’ dari komunitas gereja lokal, tidak salah juga kita berpartisipasi dalam doa, kegembiraan, dan harapan yang dititipkan ke pundak sang gembala itu. Secara pribadi, saya coba membuat semacam ‘permenungan’ dari sisi pinggiran dalam membaca peristiwa iman tersebut.

Pentahbisan bagi saya bukan sebuah ‘pesta profan (duniawi)’ yang dirayakan secara berlebihan. Bukan ‘pentahbisan in se’ yang perlu diagungkan, tetapi pertanggungjawaban terhadap ‘momen pelantikan’ oleh Tuhan tersebut. Dengan kata lain, pentahbisan itu bukan ‘tujuan utama’, tetapi sebagai sarana agar seseorang bisa secara paripurna membaktikan hidupnya bagi kemuliaan Tuhan yang tampak dalam ‘perubahan wajah iman umat’ yang dilayaninya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *